Pertarungan Simbolik dalam Konflik Internal PDI Era Rezim Orde Baru (Studi Sejarah Penyerangan Kantor PDI pada 27 Juli 1996)
Abstract
Penelitian ini berusaha untuk memperluas kajian dari teori praktek sosial Bourdieu, yaitu kuasa simbolik bekerja melalui kata-kata dengan tanpa dikenali/tanpa disadari. Tetapi, adanya capital power yang dimiliki aktor dominan, maka akan mempergunakan cara lain selain kata-kata untuk mengkonstruksi realitas politik seperti yang diinginkan. Kajian akan menegaskan dominasi aktor dalam menstruktur arena konflik politik dalam bentuk lain. Dengan mengambil kasus pada konflik internal PDI era rezim Orde Baru, maka konflik dipahami sebagai bentuk integrasi politik yang dilakukan rezim kekuasaan dalam menjamin posisi status quo. Bagi PDI pendukung Megawati, konflik internal dipersepsi sebagai rekayasa dari rezim Orba untuk meminggirkannya dalam arena politik. Untuk itu mereka mengadakan perlawanan. Melalui metode pendekatan sejarah dan analisa penafsiran kritis, didapatkan kesimpulan, instrumen bahasa sebagai daya untuk menstruktur realitas tidak sanggup menetapkan doxa/konsensus seperti yang dikehendaki rezim Orde Baru. Alternatif lain, dan sudah menjadi habitus dari rezim Orde Baru, yaitu dengan melakukan kekerasan nyata, atau kekerasan politik. Yaitu dengan pengerahan kekuatan yang dilakukan alat negara.
Full Text:
PDFDOI: http://dx.doi.org/10.25008/pknk.v1i1.11
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2017 Prosiding Konferensi Nasional Komunikasi
Indexed by:
View My Stats




.png)